ShoutMix chat widget

Natal Perlukah Di Rayakan?

Saturday, 5 December 2009 |

Fenomena Natal memang terus bergulir menjadi perdebatan para pendeta serta cemoohan bagi agama seberang! Mengapa demikian? Diantara Pendeta yang silih pendapat saling menunjukkan taringnya seolah-olah mereka adalah orang-orang Top yang layak didengar theologianya padahal mereka tolol dan gila! Natal yang baik-baik menjadi rusak oleh ulah para Hamba Tuhan yang cupet berpikir dan defisit dalam spiritnya!

Ada yang mengklaim Natal harus dirayakan besar-besaran bukan hitungan jutaan tapi milyar, ia mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang menyuruhnya merayakan Natal secara gedhe-gedhean..... Yes Puji Tuhan kalau memang Tuhan ngomong ya jalankanlah... yang lain nggak usah ngiri ... Lha wong Tuhannya dia yang bilang harus merayakan secara besar-besaran.. kalau ia mampu mengapa tidak? toh mereka sedang mencari jiwa dengan caranya dan mengklaim Tuhan sendiri yang bicara! Siapa saksinya kalau Tuhan bicara? nah.. ini orang usil lagi ngapain cari-cari perkara minta saksi lagi! sebab Alkitab juga mengatakan kalau ada saksi kan baru sah demikian argumennya.. .. supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan ( Mat 18:16)

Mbok I yo ... jangan usil terhadap pendapat orang? kalau Tuhan bicara benar dengan dia? mau apa? Nanti kan kelihatan di sorga? Kalau Tuhan tidak bicara hanya hatinya sendiri yang ngomong dan kemudian dia mengklaim dari Tuhan? Orang perlu ingat suara hati dan suara Tuhan sangat tipis lho? ya biarin aja? akhirnya semua pekerjaan akan kelihatan koq? Yang penting nama Tuhan di muliakan! Model Pendeta ini kalau memang ia mendengar suara Tuhan maka ia akan rendah hati dengan tidak membawa diri sebagai jargon atau idola utama tetapi akan membawa Jemaat sungguh kepada Kristus tapi kalau itu bukan suara Tuhan maka cirikhas utamanya ia menggendong kesombongan di pundaknya, berhiaskan arogansi diri dan menuntut sebuah pengangungan seolah-olah tidak ada orang bisa seperti dirinya! ini baru setan yang ada di mimbar gereja! namun orang tidak boleh memvonis, siapa yang berhak memvonis? Hanya Tuhan saja!

Lain lagi Pendeta yang tidak mau merayakan Natal! jangankan merayakan mendengar kata natal yang diklaim dari kafir itu alergi mengucapkannya sebab kata Natal tidak Alkitabiah? memang benar sih kata itu tidak ada dalam Alkitab! Dirinya merasa menjadi orang yang Injili hanya kata Alkitab saja yang dilakukan kalau tidak ada tidak boleh! Mana ada Alkitab menyuruh merayakan natal? carilah kalau ada potong telinga saya? " demikian argumennya! Orang ini memang sok theologi tetapi salah kaprah, yang satu pendeta merasa dirinya paling suci yang lain merasa dirinya paling pintar! entah setan mana yang mensponsorinya!

Ada Pendeta yang tidak mau kotbah gara-gara ada pohon terang sebab baginya pohon terang itu adalah penyembahan berhala. Sebuah Pohon yang dihiasi dan di beri penerang menjadi sorotan mata! itu menduakan Tuhan! Ia pernah mengklaim mencabut pohon Natal sebelum kotbahnya sebagai protes dengan menunjukkan ayat kebenaran bahwa itu tidak ada dalam Alkitab! Klaim yang diberikan adalah bahwa di jaman Yesus lahir tidak mungkin ada salju! kalau sampai ada salju maka gembala di Padang Efrata akan beku menjadi Patung es! Rasa-rasanya pendeta model ini benar juga sih? masuk akal dan cukup Alkitabiah tapi tunggu dulu amati kebenaran secara akurat jangan gegabah!

Bagi agama sebelah natal bagaikan dagelan atau lawakan! Peristiwa kelahiran Yesus yang di bulan Desember itu di telusuri dan di kotak-katik tidak mungkin jatuh tanggal 25 Desember. Orang Kristen salah sedang melakukan penyembahan berhala! Seluruh statementnya memang seolah-olah ada kebenarannya tetapi heran usilnya ngurusin agama lain itu apa agamanya kurang pengajaran ya? mbok mempelajari agamanya sendiri nggak usah colak-colek agama lain? yang begini pasti norak mencari popularitas yang salah jalur seharusnya kelas pesawat VVIP ia masih jalur bajay sradak-sruduk tanpa tahu arah! Karena sekarang banyak orang ngomong tetapi tidak tahu tetapi banyak orang yang tahu tetapi tidak mau ngomong! nah sekarang ini tahu dan mau ngomong!

Natal dalam Alkitab


Secara tersurat Alkitab tidak pernah memerintahkan untuk merayakan natal. Kata Natal sendiri di adopsi dari bahasa Portugis mengartikan hari kelahiran. Memang tidak pernah orang-orang kudusnya Tuhan merayakan hari kelahiranNya kecuali orang-orang Kafir seperti Herodes dan Firaun. Kedua ulang tahun ini mendatangkan malapetaka dimana Yohanes kepalanya di penggal (Mat 14: 6-9) sementara Firaun memecat juru minuman dan makanan serta berakhir juru makanan di gantung! (Kej 40:20-21).
Namun adakah Alkitab bungkam untuk perayaanNya? tidak sama sekai sebab karya terbesar Allah adalah mengubah diriNya yang Roh itu menjadi daging dan sama seperti manusia bukan persoalan sepele atau main-main melainkan persoalan spektakuler yang patut dirayakan.Orang harus sadar bahwa natal bukanlah perbuatan manusia melainkan perbuatan Allah yang sangat terencana. Tanpa Natal maka sudah dapat dipastikan tidak ada Paskah atau kenaikan Tuhan Yesus. Natal bukan untuk diremehkan melainkan harus dirayakan sebagai sukacita sorgawi dalam kemuliaan Tuhan!
Mengingat Natal adalah perbuatan Allah maka Allah secara pribadi memberikan sambutanNya pada waktu kelahiranNya. Pertama-tama Ia mempersilahkan alam menyambutNya dengan bintang sebagai kompas bagi tamu undangan (Mat 2:9). Mereka yang hadir tidak tanggung-tanggung dari kaum elite sampai dengan kaum miskin!
Dari pihak manusia Tuhan menggerakkan orang yang belum pernah dikenal untuk menghampiri bayi istimewa ini orang majus dari jauh digerakkan Tuhan bersama para gembala yang sederhana untuk menjumpai Yesus dalam Palungan! Mereka di gerakkan dengan peristiwa yang bukan berasal dari manusia tetapi dari perbuatan Allah yang besar! Orang berpendidikan yang diwakilkan orang majus datang tertunduk sementara para pekerja dan kaum sederhana seperti para gembala datang bersujud dibawah kaki bayi mungil!
Allah sendiri bersukacita atas peristiwa Natal sehingga Ia memerintahkan para malaikat untuk menyanyikan kidung pujian (Luk 2:11) dan ini disaksiskan oleh manusia yang ada di bumi. Belum pernah ada dalam sejarah dunia bahwa malaikat ikut berpaduan suara menyambut kelahiran seorang anak manusia. Malaikat mewakili makluk alam roh yang menyambut kelahiran Tuhan.
Namun setan juga tidak kehilangan akal ia menyambutnya dengan amukan pembantaian bayi-bayi mungil (Mat 2:8) Setan termanifes di dalam diri Herodes yang mengamuk merasa dirinya tersaingi. Kapan ada raja yang bisa cemburu dan merasa diri tersaing dengan kelahiran seorang bayi? tidak akan pernah ada kecuali penampilan Herodes yang sudah dirasuki setan yang merayakan natal dengan mabuk ambisi dan gila hormat sehingga manusia menjadi korbannya.
Dari penyambutan Allah yang menggerakkan alam, malaikat dan orang-orang yang dikehendakiNya maka natal bukanlah peristiwa yang sepele melainkan peristiwa spektakuler yang perlu mendapat perhatian khusus. Jika Bapa sendiri menyambutnya mengapa manusia berdiam dan mengacuhkannya dengan tidak merayakannya.
Sebenarnya tidak ada alasan untuk orang percaya berdiam diri untuk menyambut natal. Karena natal sendiri merupakan mujizat besar yang harus disyukuri dengan tindakan yang mempermuliakan namaNya. Natal bukanlah pesta pora duniawi sebab pesta tersebut bukan saja tidak berkenan kepada Tuhan melainkan mendukacitakan Tuhan.
Yesus sendiri melarang pesta yang identik dengan sukacita duniawi, Lukas 21:34 menyatakan : "Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.
Namun natal juga bukan persoalan kemiskinan yang identik dengan kain lampin, palungan dan para gembala yang kotor Natal tidak ada hubungannya dengan kemiskinan tapi natal berbicara soal kesederhanaan apa adanya tanpa ada kepalsuan. Orang perlu mengerti Yesus lahir dalam perjalanan dan tidak ada tempat penginapan (Luk 2:7,12). Peristiwa ini hanya “kondisional” saja bukan bukan untuk sepanjang jaman yang mengharuskan setiap natal harus ada kain lampin dan penuh kemiskinan.
Natal pertama ada Emas, Mur dan Kemenyan yang merupakan harta yang cukup bernilai pada waktu itu. Jika tidak ternilai maka orang majus yang jauh tidak akan pernah membawanya dan itu tidak dibutuhkan. Walau nilai barang-barang tersebut memiliki simbol dalam kehidupan Yesus dalam perjalanan selanjutnya yakni dari penderitaan sampai kemuliaan namun harta terindah itu dinikmati Yesus terutama Maria dan Yusuf dalam membesarkan YEsus

0 comments:

Post a Comment

Followers