ShoutMix chat widget
silvanamails.net
Free money making opportunity. Join Cashfiesta.com and earn cash.
Showing posts with label History Of Indonesia. Show all posts
Showing posts with label History Of Indonesia. Show all posts

Borobudur The Greatest Temple On JAVA

Saturday, 21 November 2009 |

The Temple of Borobodur

Borobodur Temple

Buddhist marvel of stone standing in the garden of Java, Indonesia

The Borobodur Temple complex is one of the greatest monuments in the world. It is of uncertain age, but thought to have been built between the end of the seventh and beginning of the eighth century A.D. For about a century and a half it was the spiritual centre of Buddhism in Java, then it was lost until its rediscovery in the eighteenth century.

The structure, composed of 55,000 square meters of lava-rock is erected on a hill in the form of a stepped-pyramid of six rectangular storeys, three circular terraces and a central stupa forming the summit. The whole structure is in the form of a lotus, the sacred flower of Buddha.

One of the ninety-two Dhyani Buddha statues enclosed in stupas

For each direction there are ninety-two Dhyani Buddha statues and 1,460 relief scenes. The lowest level has 160 reliefs depicting cause and effect; the middle level contains various stories of the Buddha's life from the Jataka Tales; the highest level has no reliefs or decorations whatsoever but has a balcony, square in shape with round walls: a circle without beginning or end. Here is the place of the ninety-two Vajrasattvas or Dhyani Buddhas tucked into small stupas. Each of these statues has a mudra (hand gesture) indicating one of the five directions: east, with the mudra of calling the earth to witness; south, with the hand position of blessing; west, with the gesture of meditation; north, the mudra of fearlessness; and the centre with the gesture of teaching.

Devotional practice of circumambulate around the galleries and terraces.

Besides being the highest symbol of Buddhism, the Borobodur stupa is also a replica of the universe. It symbolises the micro-cosmos, which is divided into three levels, in which man's world of desire is influenced by negative impulses; the middle level, the world in which man has control of his negative impulses and uses his positive impulses; the highest level, in which the world of man is no longer bounded by physical and worldly ancient desire.

It is devotional practice to circumambulate around the galleries and terraces always turning to the left and keeping the edifice to the right while either chanting or meditating. In total, Borobodur represents the ten levels of a Bodhisattva's life which he or she must develop to become a Buddha or an awakened one.


Indonesia
Date of Inscription: 1991
Criteria: (i)(ii)(vi)
Regency of Magelang, Province of Central Java
S7 36 28 E110 12 13
Ref: 592

Brief Description

This famous Buddhist temple, dating from the 8th and 9th centuries, is located in central Java. It was built in three tiers: a pyramidal base with five concentric square terraces, the trunk of a cone with three circular platforms and, at the top, a monumental stupa. The walls and balustrades are decorated with fine low reliefs, covering a total surface area of 2,500 m2. Around the circular platforms are 72 openwork stupas, each containing a statue of the Buddha. The monument was restored with UNESCO's help in the 1970s.



READ MORE - Borobudur The Greatest Temple On JAVA

CANDI LAWANG (Hasil Penelitian Tahap I: Kesimpulan dan Rekomendasi)

Tuesday, 10 November 2009 |

1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, Candi Lawang lebih tepat disebut dengan “kompleks Candi Lawang” yang antara lain ditunjukkan oleh kompleksitas bangunan yang terdiri atas sedikitknya 6 bangunan. Keenam bangunan yang sudah dapat dikenali adalah satu Bangunan Induk, dua bangunan perwara di kanan dan kiri bangunan induk, serta tiga bangunan di atas satu batur yang berada di depan ketiga bangunan tersebut.

Karakter lain yang dapat diidentifikasi adalah arah hadap bangunan induk dan bangunan perwara di kiri dan kanan, yaitu menghadap ke arah barat; sedangkan tiga bangunan di depannya menghadap kearah timur atau berhadapan dengan bangunan utama. Kompleksitas dan susunan bangunan kompleks Candi Lawang mengingatkan pada kompleks percandian Larajonggrang atau Prambanan. Variable analog kedunya adalah bangunan induk di apit oleh dua bangunan yang lebih kecil di kiri dan kanan (Candi Brahma dan Wisnu di Prambanan), serta tiga bangunan lain di depannya (tiga candi vahana di Prambanan). Perbedaan mendasar dari analogi itu adalah arah hadap, yaitu Candi Prambanan menghadap kea rah timur, sedangkan Candi Lawang menghadap kearah Barat. Perbedaan mendasar lain adalah ukuran kompleks dan bangunannya, Candi Lawang lebih kecil dibandingkan Candi Prambanan. Hasil ekskavasi manunjukkan bahawa pagar kompleks Candi Lawang diduga berukuran 25,70 x 25,70 meter, sedangkan pagar halaman pertama Candi Prambanan berukuran jauh lebih luas.

Latar belakang keagamaan kompleks Candi Lawang adalah Hindu, yang antara lain ditunjukkan oleh keberadaan yoni dan arca Durga Mahisasuramardini. Dari segi arsitektur, di antara kaki candid an tubuh candi terdapat profil berupa sisi genta, persegi, dan half round yang menunjukkan bahwa bangunan Candi Lawang berlanggam Jawa Tengah. Berdasarkan identifikasi tersebut dan juga bentuk huruf pada prasasti, bentuk ratna pada kemuncak, serta ragam hias yang ada, diduga kompleks Candi Lawang didirkan pada abad ke-9 Masehi, yaitu pada masa Mataram Kuna.

Dalam kaitannya dengan teknologi, hasil ekskavasi dan pengamatan bangunan menunjukkan hal-hal sebagai berikut. Candi Lawang dibangun di atas lahan bukit berdekatan dengan sebuah sungai yang berada di sebelah utara bangunan. Awalnya permukaan lahan tersebut bergelombang dan dimodidikasi melalui perataan dan pemadatan sebagai alas fondasi. Sebagai alas fondasi digunakan tatal batu dan kerakal untuk bangunan perwara atau yang lebih kecil, sedangkan fondasi bangunan induk beralaskan kerakal dan bolder. Di atas alas inilah fondasi dibangun berupa tiga lapis susunan balok-balok batu yang digarap tanpa tahap penghalusan pada setiap sisinya. Selanjutnya didirikan kaki candi, tubuh candi, hingga bagian atap. Dari pengamatan kuantitas komponen batu candi, agaknya bagian tubuh dan atap bangunan banyak kehilangan komponen batunya.

Bebeapa komponen bangunan menunjukkan bahwa Candi Lawang belum selesai dibangun. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh beberapa komponen pipi tangga bangunan induk dan bangunan perwara dan antefiks. Selain itu, beberapa hiasan juga menunjukkan belum selesai dikerjakan.

Produk peradaban Mataram Kuna di lereng timur Merapi ternyata bukan hanya Candi Lawang. Di sekitar situs, masih dalam wilayah Kecamatan Cepogo, terdapat sumberdaya arkeologi yang diduga semasa dengan Candi Lawang, yaitu Candi Sari, Petirtaan Cabean Kunti, Sumur Songo, serta sebaran komponen bangunan lasik lainnya. Bukan hanya itu, catatan BP3 memperlihatkan sedikitnya 400 titik di Kabupaten Boyolali yang mengandung tinggalan masa Mataram Kuna. Hal ini menunjukan bahwa Candi Lawang merupakan bagian dari bentang budaya Mataram Kuna yang pada saat itu berpusat di wilaya Kedu. Dalam kerangka bentang budaya, Candi Lawang merupakan bagian dari situs-situs masa Mataram Kuna di lereng timur Merapi dengan ketinggian di atas 700 meter dpl, tepatnya 932 mpdl.

Konteks kekinian Candi Lawang secara umum menunjukkan bahwa situs ini masih asing, bahkan bagi sebagian besar masyarakat Boyolali, candi ini belum dikenal. Masyarakat di sekitar situs secara umum juga tampak asing meskipun sudah mengetahui keberadaannya. Hal ini antara lain karena belum tersosialisasinya Candi Lawang, baik sebagai situs maupun karakter dan makna kultural yang terkandung di dalamnya.

Candi Lawang memang memiliki beragai potensi dan unsur-unsur kekuatan dan peluang pengembangan , di samping beberapa kelemahan dan tantanan dalam pengembangannya. Namun demikian, konteks kekinian dan konteks historis dapat dijadikan landasan pengembangan baik dalam aspek keilmuan, aspek pendidikan, bahkan aspek kepariwisataan, sebagaimana dituangkan dalam rekomendasi berikut ini.

2. Rekomendasi

Butir-butir rekomendasi berdasarkan hasil penelitian adalah konsep dasar untuk dikembangkan dan diprogramkan dalam rangka pembangunan sektor kebudayaan, sektor pendidikan, dan sektor kepariwisataan di Kabupaten Boyolali. Penyusunan rekmomendasi selain didasarkan pada hasil penelitian juga didasarkan pada prinsip-prinsip dan kerangka pengelolaan sumberdaya arkeologi yang meliputi aspek penelitian, aspek pelestarian, dan aspek pengembangan atau pemanfaatan. Uraian rekomendasi tersebut adalah sebagai berikut:

2.1 Aspek Penelitian

Penelitian arkeologi di situs Candi Lawang tahap I yang dilakukan melalui survei dan ekskavasi telah berhasil mengungkap beberapa hal tentang Candi Lawang, baik karakter, konteks bentang budaya, konteks historik, dan juga konteks kekinian. Namun demikian pada prinsipnya, penelitian Candi Lawang merupakan bagian dari program jangka panjang penelitian arkeologi untuk menggali seluruh potensi arkeologis di lereng timur Merapai yang berada di wilayah Kabupaten Boyolai. Di dalamnya meliputi potensi arkeologi baik dari masa prasejarah, masa klasik atau Hindu-Buddha, dan juga masa peradaban Islam hingga masa kolonial.

Khusus untuk penelitian Candi Lawang tahap II, terdapat beberapa sasaran yang belum dapat diungkap dalam penelitian tahap I. Sasaran tersebut antara lain adalah: 1) detil pagar sebagaimana telah ditunjukkan sebagian strukturnya dari hasil penelitian tahap I, 2) lokasi dan bentuk pintu masuk, 3) kemungkinan keberadaan halaman ke-2 dan ke-3 selain pagar halaman pertama sehingga diketahui besaran luas situsnya, serta 4) aspek geologis lingkungan Candi Lawang, khususnya perubahan geomorfologis atau bentuk lahan dan lingkungan di sekitar candi dari waktu ke waktu, maupun sumber bahan batuan candi, dan tentu saja kaitannya dengan aktivitas Gunung Merapi.

Secara khusus pula dalam tahap II meliputi sasaran potensi sumberdaya arkeologis di sekitar situs yang berdasarkan hasil survei menunjukkan adanya sebaran komponen bangunan candi dan arca di sekitar lokasi. Persebaran komponen bangunan candi ini belum secara pasti menunjukkan apakah bagian dari bangunan Candi Lawang atau justru bangunan tersendiri. Kemungkinan adanya bangunan candi di sekitar Candi Lawang memang terbuka, sehingga survei pendalaman sangat diperlukan untuk mengetahui kaitan Candi Lawang dengan bangunan-bangunan yang semasa. Hasil survei nantinya juga diharapkan dapat menempatkan secara lebih komprehensif Candi Lawang dalam bentang budaya skala semi mikro hingga makro. Surevei pendalaman ini dibarengi dengan program GIS (Geographical Information System) tingkat awal sebagai dasar program GIS untuk mendukung program jangka panjang dalam menggali potensi arkeologis di lereng timur Merapi yang berada di wilayah Kabupaten Boyolali.

Penelitian tahap II nantinya dijadikan dasar untuk penyusunan program tahap III dan tahap selanjutnya sehingga sasaran jangka panjang akan tercapai berupa terungkapnya potensi arkeologis lereng timur Merapi. Sasaran jangka panjang inilah yang akan menjadi dasar dan bingkai dalam pengembangan dan pemanfaatan potensi arkeologis di Kabupaten Boyolali yang nantinya bermuara pada tiga hal, yaitu mendukung sektor pendidikan baik informal maupun formal (misalnya kurikulum muatan lokal), sektor pengembangan budaya, dan sektor kepariwisataan, khususnya dalam bingkai jalur Solo – Selo – Borobudur (SSB).

Rumusan rekomendasi berdasarkan uraian tersebut adalah sebagai berikut:

a. Penelitian Candi Lawang tahap II merupakan bagian dari program jangka panjang penelitian arkeologi untuk menggali seluruh potensi arkeologis di lereng timur Merapi yang berada di wilayah Kabupaten Boyolali

b. Dalam tahap II, penelitian Candi Lawang dilakukan untuk mencapai sasaran berupa:

  • detil pagar halaman pertama,
  • posisi dan bentuk pintu masuk,
  • kemungkinan adanya halaman ke-2 dan ke-3, dan
  • aspek geologis lingkungan situs Candi Lawang

c. Dalam tahap II juga dikembangkan survei pendalaman yang meliputi sasaran berupa

  • sebaran komponen bangunan candi atau bangunan masa klasik,
  • kemungkinan adanya bangunan candi selain Candi Lawang,
  • menempatkan secara lebih komprehensif Candi Lawang dalam bentang budaya skala semi mikro hingga makro dalam bingkai Mataram Kuna, serta
  • program awal GIS (Geographical Information System)

d. Hasil penelitian tahap II nantinya menjadi dasar untuk tahap III dan tahap-tahap selanjutnya hingga sasaran dalam program jangka panjang tercapai, baik berupa potensi arkeologis masa prasejarah, masa klasik, maupun masa Islam hingga masa kolonial

e. Hasil penelitian setiap tahap berupa

  • laporan akademik kegiatan penelitian,
  • paket dokumen penelitian, serta
  • kemasan publikatif baik kemasan tulis maupun kemasan elektronik yang diharapkan dapat digunakan untuk mendukung pengembangan sektor pendidikan, sektor seni dan budaya, serta sektor kepariwisataan

2.2 Aspek Pelestarian

a. Jangka Pendek

Mengacu hasil penelitian yang telah dilakukan, kegiatan pelestarian yang mendesak untuk segera dilaksanakan adalah konsolidasi dan inventarisasi batu dan bangunan yang ada di kompleks Candi Lawang. Kegiatan ini mendesak untuk segera dilakukan mengingat lokasi candi yang berada di tengah pemukiman penduduk, yang bertujuan untuk menghindari pencurian atau pemindahan batu untuk kepentingan di luar pelestarian. Selain kegiatan teknis pada bangunan candi perlu kiranya dibentuk hubungan yang solid dengan pemda setempat dalam hal pelestarian. Agar kasus pendirian pos jaga oleh pemda yang kurang tepat dalam penempatannya tidak terulang kembali. Hal ini terjadi karena tidak adanya koordinasi antara pemda dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. Seiring dengan kegiatan koordinasi, hal yang harus segera dilakukan adalah menampilkan sosok Candi Lawang di situs internet milik Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah agar banyak orang yang mengenal Candi Lawang.

b. Jangka Menengah

Untuk jangka menengah kegiatan pelestarian yang perlu untuk dilakukan adalah penyuluhan dan pengenalan benda cagar budaya di Boyolali agar masyarakat dapat mengenal lebih dekat tinggalan budaya yang ada di lingkungan mereka, setelah proses pengenalan, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif dalam upaya pelestarian benda cagar budaya. Pengenalan dalam bentuk lain adalah mengadakan kemah budaya bagi siswa sekolah menengah. Selain itu juga dapat dipakai metode pengadaan kegiatan jejak budaya yang mengambil cara seperti kegiatan mencari jejak dalam kegiatan pramuka, namun muatan materi disesuaikan dengan kebutuhan yang ingin dicapai. Sebagai penguat upaya pengenalan Candi Lawang, dapat disusun leaflet yang berisi pengetahuan tentang objek dengan penyajian yang sederhana, mengena, dan cukup menarik bagi masyarakat umum. Sebelum dilakukan penataan kawasan perlu dilakukan kegiatan pemintakatan yang bertujuan untuk membuat zonasi kompleks Candi Lawang dan pembebasan tanah di sekitar candi serta pensertifikatan tanah setelah kegiatan pembebasan dilakukan.

c. Jangka Panjang

Kegiatan yang dimungkinkan dapat dilakukan terhadap Candi Lawang antara lain penataan kembali kawasan candi dan lingkungannya sesuai dengan kondisi terbaru Kompleks Candi Lawang. Salah satunya adalah dengan penyusunan masterplan pengembangan Candi Lawang dan lingkungannya dengan melibatkan masyarakat sekitar untuk turut serta dan berperan aktif melestarikan Candi Lawang.

2.3 Aspek Pengembangan dan Pemanfaatan

Aspek pengembangan dan pemanfaatan situs Candi Lawang pada prinsipnya sangat tergantung pada hasil penelitian dan keranga pelestarian sebagaimana telah diuraikan di atas. Namun demikian, beberapa hal yang perlu direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian tahap I ini adalah sebagai berikut:

a. Sektor Pendidikan

Untuk aspek pendidikan, Candi Lawang dapat ditinjau dari segi wujud fisik dan kandungan makna yang melekat di dalamnya. Khusus untuk pendidikan formal, pengenalan awal keberadaan Candi Lawang dijadikan sebagai bagian dari paket muatan lokal atau mata pelajaran terkait, khususnya sejarah kepada anak didik. Untuk itu diperlukan antara lain langkah berupa:

· koordinasi antara Dinas Parbud dengan Dinas Pendidikan

· penyusunan kemasan tulis tentang Candi Lawang sesuai dengan kebutuhan pendidikan

· menjajagi kemungkinan dimasukannya informasi tentang Candi Lawang sebagai bagian dari kurikulum muata lokal

Sementara itu untuk pendidikan non formal, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

· memasukan informasi tentang Candi Lawang sebagai bagian dari data base pada instansi terkait, khusunya pengelola informasi di Kabupaten Boyolali

· penyuluhan dan pameran khusus mengenai hasil penelitian Candi Lawang

· menjajagi kemungkinan dilaksanakannya program archaeology goes to mall berupa kerja sama antara Dinas Parbud dengan pengelola Mall dalam rangka pameran potensi arkeologis di Kabupaten Boyolali termasuk hasil penelitian mutakhir, di area mall yang tentu sudah menjadi area publik yang ramai

· pembuatan dan penggandaan poster hasil penelitian Candi Lawang

· press release mengenai hasil penelitian Candi Lawang

b. Sektor Seni dan Budaya

Informasi dan wujud fisik Candi Lawang dalam batas tertentu dapat dijadikan sebagai bahan inspirasi bagi pengembangan seni dan budaya di Kabupaten Boyolali. Beberapa hal yang patut dijajagi berkaitan dengan hal tersebut antara lain adalah:

· ragam hias yang terdapat pada bangunan Candi Lawang dapat dikonversi sebagai pola batik atau hal lain yang berkaitan dengan pengembangan seni

· aspek estetik Candi Lawang dikonversi menjadi model pada pengembangan kerajinan tembaga Tumang

· Menjajagi kemungkinan konversi teknologi konstruksi Candi Lawang dalam pengembangan model bangunan khusus yang berada pada bentang lahan yang kurang lebih sama di lereng Merapi

c. Sektor Kepariwisataan

Dalam aspek kepariwisataan, pengembangan Candi Lawang sebagai ODTW perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

· Integrasi dengan ODTW yang sudah dikembangkan, khususnya berkaitan dengan konsep jalur Solo – Selo – Borobudur (SSB), baik berupa objek alamiah, objek seni dan budaya, maupun objek artifisial

· Penataan akses, khususnya sarana jalan menuju Candi Lawang yang harus diperbaiki

· Papan petunjuk diperjelas dan didistribusikan mulai dari gerbang SSB hingga lokasi candi

· Penyebaran informasi tentang Candi Lawang di titik-titik massa seperti hotel, restoran, dan biro perjalanan di Boyolali dan sekitarnya

· Pelibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan kepariwisataan

· Menjajaki kemungkinan pemasaran view Merapi - Merbabu dari lokasi Candi Lawang yang secara alami sangat potensial sebagai pemandangan alam yang mengagumkan.

READ MORE - CANDI LAWANG (Hasil Penelitian Tahap I: Kesimpulan dan Rekomendasi)

WISATA ADBM

Saturday, 24 October 2009 |

peta_mataram
LOKASI: (Akan ditata secara alfabetik)

Jalatunda :
Asal tokoh Alap-alap Jalatunda, pengikut Tohpati yang akhirnya mati di tangan Sidanti dalam perang tanding di Padepokan Tambak Wedi. Jalatunda termasuk ke dalam tlatah Kabupaten Klaten kira-kira 5 (lima) km dari Jatinom mengarah ke jalan raya Solo-Jogja. Jalatunda terkenal dengan tempat pemandian alami dengan mata air melimpah ruah. Konon jika mata airnya tidak disumbat dengan sebuah gong oleh Sunan Kalijaga, maka niscaya daerah tersebut dan sekitarnya berubah menjadi telaga atau danau.

Jati Anom :
Sekarang namanya Jatinom, sebuah kota kecamatan yang berada di sebelah timur utara kota Klaten ke arah Boyolali. Secara administratif masuk Kabupaten Klaten. Di daerah ini terkenal acara Ongkowiyu atau Yoqowiyu (nggak tahu istilah dari mana, mungkin dari Arab). Salah satu acaranya rebutan kue apem di panggung depan sebuah masjid. Ongkowiyu diselenggarakannya setiap bulan Ruwah (Sya’ban). Di Jatinom terdapat petilasan para wali berupa 3 buah goa (?) yang masing-masing punya nama sendiri2.

Jipang :
Petilasan Kadipaten Jipang Panolan terletak di desa Jipang, berjarak sekitar 8 kilometer dari kota Cepu. Petilasan ini berbentuk makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan bekas pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat ini bisa ditemukan Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, Petilasan Masjid, dan makam kerabat kerajaan waktu itu, antara lain makam Raden Bagus Sumantri, Raden Bagus Sosrokusumo, Raden Ajeng Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng dapat ditemukan Makan Santri Songo. Disebut demikian karena di situ dapat ditemukan sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata pemerintahan Pajang. Kadipaten Jipan terkenal di masa pemerintahan Adipati Aryo Penangsang (Aryo Jipang) yang memiliki senjata sakti keris Brongot Setan Kober dan kuda tunggangan Gagak Rimang.

Mangir :
Merupakan Tanah Perdikan yang terletak di Kabupaten Bantul sekarang, tepatnya di sebelah barat daya kabupaten Bantul. Dari Palbapang (1 km sebelah selatan dari pusat kota bantul) berjalan 3 km arah barat, sampailah di daerah Mangir. Di sudut kampung ini masih ada tonggak batu pengikat gajah.
Mangir menjadi terkenal ketika dipimpin Ki Ageng Mangir Wonoboyo yang terang-terangan menolak kebesaran Panembahan Senopati selaku Raja Mataram. Pada akhirnya Ki Ageng Mangir dapat ditaklukkan oleh Panembahan Senopati. Penaklukan Mangir itu sendiri merupakan kisah yang sangat menarik.

Menoreh :
Bukit Menoreh adalah daerah perbukitan yang membentang di wilayah utara Kabupaten Kulon Progo, sebagai batas antara kabupaten tersebut dengan Kabupaten Purworejo di sebelah barat dan Kabupaten Magelang di sebelah utara. Bukit Menoreh adalah basis pertahanan Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya dalam berperang melawan Belanda.

Mentaok, Alas atau Hutan Mentaok: sekarang telah menjadi Kota Gede di Yogyakarta. Kota Gede merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram pada saat dipimpin Panembahan Senopati (Sutawijaya). Di Kota Gede terdapat makam Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan Ki Ageng Mangir. Disana juga ada dinding batas keraton yang rusak terkena pentalan tubuh Rd. Rangga saat Panembahan Senopati menyentilnya (Rd. Rangga adalah putra pertama P. Senopati dg Rara Semangkin). Juga ada watu gilang yang menjadi singgasana P. Senopati dan batu tersebut sedikit melesak membentuk bundaran kepala. Keraton Mataram yang ada sekarang adalah pindahan dari Keraton lama sejak jaman Panembahan Anom (pengganti P. Senopati sebagai raja Mataran ke II).

Pajang :
Bekas kraton Pajang terletak di daerah Solo, yaitu Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Surakarta. Terletak di sebelah Selatan Kartosuro sekarang. Dari Kraton Kasunanan yang sekarang ke arah Barat. Kerajaan pajang tidak bertahan lama, hanya sempat satu raja saja yaitu Hadiwijaya (lebih lanjut baca Sutawijaya).

Petilasan Kerajaan Pajang terletak di perbatasan Kabupaten Sukoharjo dan Kota Solo, yaitu di Kampung Sanggrahan, Kelurahan Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo. Di dalam kompleks terdapat bangunan sederhana berupa pendopo, langgar, dan secuplik lahan yang disebut Gedung Pusoko. Di sini dipercaya masih tersimpan sisa-sisa pusaka peninggalan Kerajaan Pajang yang dipendam di dalam tanah.

Note: Mohon koreksi, di manakah Petilasan Pajang yang sebenarnya: Desa Pajang Kec. Laweyan, atau Kampung Sanggrahan, Makamhaji.

Pati :
Semula merupakan Tanah Perdikan yang dihadiahkan oleh Sultan Hadiwijaya dari Pajang kepada Ki Penjawi karena bersama-sama Ki Gede Pemanahan berhasil membunuh Arya Penangsang dari Jipang. Kini Pati adalah sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang terletak di sebelah Utara Solo.

Prambanan :
Adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Klaten dan merupakan wilayah perbatasan Jawa Tengah dengan Yogyakarta

Sangkal Putung
Merupakan daerah yang letaknya di “pojok” kota Klaten ke arah luar kota. Sekarang setelah Solo-Jogja sudah tersambung, dusun kecil Sangkal Putung praktis sudah tidak nampak karakteristiknya. Sangkal Putung saat ini menjadi kawasan ramai di kota Klaten, ada terminal busnya juga.

Selo:
Sekarang merupakan obyek wisata spiritual terletak di Kec. Tawangharjo, 10 km sebelah timur kota Purwodadi, Kab Grobogan. Nama Desa Selo nunggak semi dengan Ki Ageng Selo (ayah dari Ki Gede Pemanahan), seorang tokoh penting karena dipercaya sebagai cikal bakal yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa. Di Desa Selo itulah teletak makam Ki Ageng Selo. Pemujaan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala di dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta. Api dari sela dianggap sebagai api keramat. Ada dongeng bahwa Ki Ageng Selo adalah seorang sakti yang dipercaya sanggup menangkap petir dan mengikatnya di salah satu pintu Masjid Demak. Orang-orang tua dulu mengajarkan kepada anaknya sebuah mantra untuk menolak sambaran gluduk. Pada saat melihat tatit agar merapal mantra “anak putu Ki Ageng Selo” sehingga setan ora doyan, belis ra ndulit, gluduk ra nyruduk. Benar tidaknya, wallahua’lam.

Semangkak :
Kalau kita menyusuri Jl. Merapi (jalur searah dari Barat ke Timur) melewati SMU 1 Klaten, terus Stadion Trikoyo, bablas sampai pertigaan Sidowayah, belok kiri terus belok kanan (ikuti jalur ke arah Solo),
setelah belok kanan itu lurus sampai mentok. Di sebelah kiri jalan pentokan itulah daerah Semangkak.
Jadi letaknya kira-kira 1 km setelah Stadion Trikoyo.

Tambakbaya, Alas :
Menilik deskripsinya, Alas Tambakbaya terletak sebelah Barat Prambanan dan sebelah Timur Mentaok. Besar kemungkinan adalah yang sekarang kampung Tambakbayan di sekitar tlatah Janti.

READ MORE - WISATA ADBM

Buy and sell Text Links
Free money making opportunity. Join Cashfiesta.com and earn cash.

Followers