ShoutMix chat widget

WISATA ADBM

Saturday, 24 October 2009 |

peta_mataram
LOKASI: (Akan ditata secara alfabetik)

Jalatunda :
Asal tokoh Alap-alap Jalatunda, pengikut Tohpati yang akhirnya mati di tangan Sidanti dalam perang tanding di Padepokan Tambak Wedi. Jalatunda termasuk ke dalam tlatah Kabupaten Klaten kira-kira 5 (lima) km dari Jatinom mengarah ke jalan raya Solo-Jogja. Jalatunda terkenal dengan tempat pemandian alami dengan mata air melimpah ruah. Konon jika mata airnya tidak disumbat dengan sebuah gong oleh Sunan Kalijaga, maka niscaya daerah tersebut dan sekitarnya berubah menjadi telaga atau danau.

Jati Anom :
Sekarang namanya Jatinom, sebuah kota kecamatan yang berada di sebelah timur utara kota Klaten ke arah Boyolali. Secara administratif masuk Kabupaten Klaten. Di daerah ini terkenal acara Ongkowiyu atau Yoqowiyu (nggak tahu istilah dari mana, mungkin dari Arab). Salah satu acaranya rebutan kue apem di panggung depan sebuah masjid. Ongkowiyu diselenggarakannya setiap bulan Ruwah (Sya’ban). Di Jatinom terdapat petilasan para wali berupa 3 buah goa (?) yang masing-masing punya nama sendiri2.

Jipang :
Petilasan Kadipaten Jipang Panolan terletak di desa Jipang, berjarak sekitar 8 kilometer dari kota Cepu. Petilasan ini berbentuk makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan bekas pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat ini bisa ditemukan Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, Petilasan Masjid, dan makam kerabat kerajaan waktu itu, antara lain makam Raden Bagus Sumantri, Raden Bagus Sosrokusumo, Raden Ajeng Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng dapat ditemukan Makan Santri Songo. Disebut demikian karena di situ dapat ditemukan sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata pemerintahan Pajang. Kadipaten Jipan terkenal di masa pemerintahan Adipati Aryo Penangsang (Aryo Jipang) yang memiliki senjata sakti keris Brongot Setan Kober dan kuda tunggangan Gagak Rimang.

Mangir :
Merupakan Tanah Perdikan yang terletak di Kabupaten Bantul sekarang, tepatnya di sebelah barat daya kabupaten Bantul. Dari Palbapang (1 km sebelah selatan dari pusat kota bantul) berjalan 3 km arah barat, sampailah di daerah Mangir. Di sudut kampung ini masih ada tonggak batu pengikat gajah.
Mangir menjadi terkenal ketika dipimpin Ki Ageng Mangir Wonoboyo yang terang-terangan menolak kebesaran Panembahan Senopati selaku Raja Mataram. Pada akhirnya Ki Ageng Mangir dapat ditaklukkan oleh Panembahan Senopati. Penaklukan Mangir itu sendiri merupakan kisah yang sangat menarik.

Menoreh :
Bukit Menoreh adalah daerah perbukitan yang membentang di wilayah utara Kabupaten Kulon Progo, sebagai batas antara kabupaten tersebut dengan Kabupaten Purworejo di sebelah barat dan Kabupaten Magelang di sebelah utara. Bukit Menoreh adalah basis pertahanan Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya dalam berperang melawan Belanda.

Mentaok, Alas atau Hutan Mentaok: sekarang telah menjadi Kota Gede di Yogyakarta. Kota Gede merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram pada saat dipimpin Panembahan Senopati (Sutawijaya). Di Kota Gede terdapat makam Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan Ki Ageng Mangir. Disana juga ada dinding batas keraton yang rusak terkena pentalan tubuh Rd. Rangga saat Panembahan Senopati menyentilnya (Rd. Rangga adalah putra pertama P. Senopati dg Rara Semangkin). Juga ada watu gilang yang menjadi singgasana P. Senopati dan batu tersebut sedikit melesak membentuk bundaran kepala. Keraton Mataram yang ada sekarang adalah pindahan dari Keraton lama sejak jaman Panembahan Anom (pengganti P. Senopati sebagai raja Mataran ke II).

Pajang :
Bekas kraton Pajang terletak di daerah Solo, yaitu Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Surakarta. Terletak di sebelah Selatan Kartosuro sekarang. Dari Kraton Kasunanan yang sekarang ke arah Barat. Kerajaan pajang tidak bertahan lama, hanya sempat satu raja saja yaitu Hadiwijaya (lebih lanjut baca Sutawijaya).

Petilasan Kerajaan Pajang terletak di perbatasan Kabupaten Sukoharjo dan Kota Solo, yaitu di Kampung Sanggrahan, Kelurahan Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo. Di dalam kompleks terdapat bangunan sederhana berupa pendopo, langgar, dan secuplik lahan yang disebut Gedung Pusoko. Di sini dipercaya masih tersimpan sisa-sisa pusaka peninggalan Kerajaan Pajang yang dipendam di dalam tanah.

Note: Mohon koreksi, di manakah Petilasan Pajang yang sebenarnya: Desa Pajang Kec. Laweyan, atau Kampung Sanggrahan, Makamhaji.

Pati :
Semula merupakan Tanah Perdikan yang dihadiahkan oleh Sultan Hadiwijaya dari Pajang kepada Ki Penjawi karena bersama-sama Ki Gede Pemanahan berhasil membunuh Arya Penangsang dari Jipang. Kini Pati adalah sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang terletak di sebelah Utara Solo.

Prambanan :
Adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Klaten dan merupakan wilayah perbatasan Jawa Tengah dengan Yogyakarta

Sangkal Putung
Merupakan daerah yang letaknya di “pojok” kota Klaten ke arah luar kota. Sekarang setelah Solo-Jogja sudah tersambung, dusun kecil Sangkal Putung praktis sudah tidak nampak karakteristiknya. Sangkal Putung saat ini menjadi kawasan ramai di kota Klaten, ada terminal busnya juga.

Selo:
Sekarang merupakan obyek wisata spiritual terletak di Kec. Tawangharjo, 10 km sebelah timur kota Purwodadi, Kab Grobogan. Nama Desa Selo nunggak semi dengan Ki Ageng Selo (ayah dari Ki Gede Pemanahan), seorang tokoh penting karena dipercaya sebagai cikal bakal yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa. Di Desa Selo itulah teletak makam Ki Ageng Selo. Pemujaan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala di dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta. Api dari sela dianggap sebagai api keramat. Ada dongeng bahwa Ki Ageng Selo adalah seorang sakti yang dipercaya sanggup menangkap petir dan mengikatnya di salah satu pintu Masjid Demak. Orang-orang tua dulu mengajarkan kepada anaknya sebuah mantra untuk menolak sambaran gluduk. Pada saat melihat tatit agar merapal mantra “anak putu Ki Ageng Selo” sehingga setan ora doyan, belis ra ndulit, gluduk ra nyruduk. Benar tidaknya, wallahua’lam.

Semangkak :
Kalau kita menyusuri Jl. Merapi (jalur searah dari Barat ke Timur) melewati SMU 1 Klaten, terus Stadion Trikoyo, bablas sampai pertigaan Sidowayah, belok kiri terus belok kanan (ikuti jalur ke arah Solo),
setelah belok kanan itu lurus sampai mentok. Di sebelah kiri jalan pentokan itulah daerah Semangkak.
Jadi letaknya kira-kira 1 km setelah Stadion Trikoyo.

Tambakbaya, Alas :
Menilik deskripsinya, Alas Tambakbaya terletak sebelah Barat Prambanan dan sebelah Timur Mentaok. Besar kemungkinan adalah yang sekarang kampung Tambakbayan di sekitar tlatah Janti.

0 comments:

Post a Comment

Followers

Blog Archive