ShoutMix chat widget

CANDI LAWANG (Hasil Penelitian Tahap I: Kesimpulan dan Rekomendasi)

Tuesday, 10 November 2009 |

1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, Candi Lawang lebih tepat disebut dengan “kompleks Candi Lawang” yang antara lain ditunjukkan oleh kompleksitas bangunan yang terdiri atas sedikitknya 6 bangunan. Keenam bangunan yang sudah dapat dikenali adalah satu Bangunan Induk, dua bangunan perwara di kanan dan kiri bangunan induk, serta tiga bangunan di atas satu batur yang berada di depan ketiga bangunan tersebut.

Karakter lain yang dapat diidentifikasi adalah arah hadap bangunan induk dan bangunan perwara di kiri dan kanan, yaitu menghadap ke arah barat; sedangkan tiga bangunan di depannya menghadap kearah timur atau berhadapan dengan bangunan utama. Kompleksitas dan susunan bangunan kompleks Candi Lawang mengingatkan pada kompleks percandian Larajonggrang atau Prambanan. Variable analog kedunya adalah bangunan induk di apit oleh dua bangunan yang lebih kecil di kiri dan kanan (Candi Brahma dan Wisnu di Prambanan), serta tiga bangunan lain di depannya (tiga candi vahana di Prambanan). Perbedaan mendasar dari analogi itu adalah arah hadap, yaitu Candi Prambanan menghadap kea rah timur, sedangkan Candi Lawang menghadap kearah Barat. Perbedaan mendasar lain adalah ukuran kompleks dan bangunannya, Candi Lawang lebih kecil dibandingkan Candi Prambanan. Hasil ekskavasi manunjukkan bahawa pagar kompleks Candi Lawang diduga berukuran 25,70 x 25,70 meter, sedangkan pagar halaman pertama Candi Prambanan berukuran jauh lebih luas.

Latar belakang keagamaan kompleks Candi Lawang adalah Hindu, yang antara lain ditunjukkan oleh keberadaan yoni dan arca Durga Mahisasuramardini. Dari segi arsitektur, di antara kaki candid an tubuh candi terdapat profil berupa sisi genta, persegi, dan half round yang menunjukkan bahwa bangunan Candi Lawang berlanggam Jawa Tengah. Berdasarkan identifikasi tersebut dan juga bentuk huruf pada prasasti, bentuk ratna pada kemuncak, serta ragam hias yang ada, diduga kompleks Candi Lawang didirkan pada abad ke-9 Masehi, yaitu pada masa Mataram Kuna.

Dalam kaitannya dengan teknologi, hasil ekskavasi dan pengamatan bangunan menunjukkan hal-hal sebagai berikut. Candi Lawang dibangun di atas lahan bukit berdekatan dengan sebuah sungai yang berada di sebelah utara bangunan. Awalnya permukaan lahan tersebut bergelombang dan dimodidikasi melalui perataan dan pemadatan sebagai alas fondasi. Sebagai alas fondasi digunakan tatal batu dan kerakal untuk bangunan perwara atau yang lebih kecil, sedangkan fondasi bangunan induk beralaskan kerakal dan bolder. Di atas alas inilah fondasi dibangun berupa tiga lapis susunan balok-balok batu yang digarap tanpa tahap penghalusan pada setiap sisinya. Selanjutnya didirikan kaki candi, tubuh candi, hingga bagian atap. Dari pengamatan kuantitas komponen batu candi, agaknya bagian tubuh dan atap bangunan banyak kehilangan komponen batunya.

Bebeapa komponen bangunan menunjukkan bahwa Candi Lawang belum selesai dibangun. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh beberapa komponen pipi tangga bangunan induk dan bangunan perwara dan antefiks. Selain itu, beberapa hiasan juga menunjukkan belum selesai dikerjakan.

Produk peradaban Mataram Kuna di lereng timur Merapi ternyata bukan hanya Candi Lawang. Di sekitar situs, masih dalam wilayah Kecamatan Cepogo, terdapat sumberdaya arkeologi yang diduga semasa dengan Candi Lawang, yaitu Candi Sari, Petirtaan Cabean Kunti, Sumur Songo, serta sebaran komponen bangunan lasik lainnya. Bukan hanya itu, catatan BP3 memperlihatkan sedikitnya 400 titik di Kabupaten Boyolali yang mengandung tinggalan masa Mataram Kuna. Hal ini menunjukan bahwa Candi Lawang merupakan bagian dari bentang budaya Mataram Kuna yang pada saat itu berpusat di wilaya Kedu. Dalam kerangka bentang budaya, Candi Lawang merupakan bagian dari situs-situs masa Mataram Kuna di lereng timur Merapi dengan ketinggian di atas 700 meter dpl, tepatnya 932 mpdl.

Konteks kekinian Candi Lawang secara umum menunjukkan bahwa situs ini masih asing, bahkan bagi sebagian besar masyarakat Boyolali, candi ini belum dikenal. Masyarakat di sekitar situs secara umum juga tampak asing meskipun sudah mengetahui keberadaannya. Hal ini antara lain karena belum tersosialisasinya Candi Lawang, baik sebagai situs maupun karakter dan makna kultural yang terkandung di dalamnya.

Candi Lawang memang memiliki beragai potensi dan unsur-unsur kekuatan dan peluang pengembangan , di samping beberapa kelemahan dan tantanan dalam pengembangannya. Namun demikian, konteks kekinian dan konteks historis dapat dijadikan landasan pengembangan baik dalam aspek keilmuan, aspek pendidikan, bahkan aspek kepariwisataan, sebagaimana dituangkan dalam rekomendasi berikut ini.

2. Rekomendasi

Butir-butir rekomendasi berdasarkan hasil penelitian adalah konsep dasar untuk dikembangkan dan diprogramkan dalam rangka pembangunan sektor kebudayaan, sektor pendidikan, dan sektor kepariwisataan di Kabupaten Boyolali. Penyusunan rekmomendasi selain didasarkan pada hasil penelitian juga didasarkan pada prinsip-prinsip dan kerangka pengelolaan sumberdaya arkeologi yang meliputi aspek penelitian, aspek pelestarian, dan aspek pengembangan atau pemanfaatan. Uraian rekomendasi tersebut adalah sebagai berikut:

2.1 Aspek Penelitian

Penelitian arkeologi di situs Candi Lawang tahap I yang dilakukan melalui survei dan ekskavasi telah berhasil mengungkap beberapa hal tentang Candi Lawang, baik karakter, konteks bentang budaya, konteks historik, dan juga konteks kekinian. Namun demikian pada prinsipnya, penelitian Candi Lawang merupakan bagian dari program jangka panjang penelitian arkeologi untuk menggali seluruh potensi arkeologis di lereng timur Merapai yang berada di wilayah Kabupaten Boyolai. Di dalamnya meliputi potensi arkeologi baik dari masa prasejarah, masa klasik atau Hindu-Buddha, dan juga masa peradaban Islam hingga masa kolonial.

Khusus untuk penelitian Candi Lawang tahap II, terdapat beberapa sasaran yang belum dapat diungkap dalam penelitian tahap I. Sasaran tersebut antara lain adalah: 1) detil pagar sebagaimana telah ditunjukkan sebagian strukturnya dari hasil penelitian tahap I, 2) lokasi dan bentuk pintu masuk, 3) kemungkinan keberadaan halaman ke-2 dan ke-3 selain pagar halaman pertama sehingga diketahui besaran luas situsnya, serta 4) aspek geologis lingkungan Candi Lawang, khususnya perubahan geomorfologis atau bentuk lahan dan lingkungan di sekitar candi dari waktu ke waktu, maupun sumber bahan batuan candi, dan tentu saja kaitannya dengan aktivitas Gunung Merapi.

Secara khusus pula dalam tahap II meliputi sasaran potensi sumberdaya arkeologis di sekitar situs yang berdasarkan hasil survei menunjukkan adanya sebaran komponen bangunan candi dan arca di sekitar lokasi. Persebaran komponen bangunan candi ini belum secara pasti menunjukkan apakah bagian dari bangunan Candi Lawang atau justru bangunan tersendiri. Kemungkinan adanya bangunan candi di sekitar Candi Lawang memang terbuka, sehingga survei pendalaman sangat diperlukan untuk mengetahui kaitan Candi Lawang dengan bangunan-bangunan yang semasa. Hasil survei nantinya juga diharapkan dapat menempatkan secara lebih komprehensif Candi Lawang dalam bentang budaya skala semi mikro hingga makro. Surevei pendalaman ini dibarengi dengan program GIS (Geographical Information System) tingkat awal sebagai dasar program GIS untuk mendukung program jangka panjang dalam menggali potensi arkeologis di lereng timur Merapi yang berada di wilayah Kabupaten Boyolali.

Penelitian tahap II nantinya dijadikan dasar untuk penyusunan program tahap III dan tahap selanjutnya sehingga sasaran jangka panjang akan tercapai berupa terungkapnya potensi arkeologis lereng timur Merapi. Sasaran jangka panjang inilah yang akan menjadi dasar dan bingkai dalam pengembangan dan pemanfaatan potensi arkeologis di Kabupaten Boyolali yang nantinya bermuara pada tiga hal, yaitu mendukung sektor pendidikan baik informal maupun formal (misalnya kurikulum muatan lokal), sektor pengembangan budaya, dan sektor kepariwisataan, khususnya dalam bingkai jalur Solo – Selo – Borobudur (SSB).

Rumusan rekomendasi berdasarkan uraian tersebut adalah sebagai berikut:

a. Penelitian Candi Lawang tahap II merupakan bagian dari program jangka panjang penelitian arkeologi untuk menggali seluruh potensi arkeologis di lereng timur Merapi yang berada di wilayah Kabupaten Boyolali

b. Dalam tahap II, penelitian Candi Lawang dilakukan untuk mencapai sasaran berupa:

  • detil pagar halaman pertama,
  • posisi dan bentuk pintu masuk,
  • kemungkinan adanya halaman ke-2 dan ke-3, dan
  • aspek geologis lingkungan situs Candi Lawang

c. Dalam tahap II juga dikembangkan survei pendalaman yang meliputi sasaran berupa

  • sebaran komponen bangunan candi atau bangunan masa klasik,
  • kemungkinan adanya bangunan candi selain Candi Lawang,
  • menempatkan secara lebih komprehensif Candi Lawang dalam bentang budaya skala semi mikro hingga makro dalam bingkai Mataram Kuna, serta
  • program awal GIS (Geographical Information System)

d. Hasil penelitian tahap II nantinya menjadi dasar untuk tahap III dan tahap-tahap selanjutnya hingga sasaran dalam program jangka panjang tercapai, baik berupa potensi arkeologis masa prasejarah, masa klasik, maupun masa Islam hingga masa kolonial

e. Hasil penelitian setiap tahap berupa

  • laporan akademik kegiatan penelitian,
  • paket dokumen penelitian, serta
  • kemasan publikatif baik kemasan tulis maupun kemasan elektronik yang diharapkan dapat digunakan untuk mendukung pengembangan sektor pendidikan, sektor seni dan budaya, serta sektor kepariwisataan

2.2 Aspek Pelestarian

a. Jangka Pendek

Mengacu hasil penelitian yang telah dilakukan, kegiatan pelestarian yang mendesak untuk segera dilaksanakan adalah konsolidasi dan inventarisasi batu dan bangunan yang ada di kompleks Candi Lawang. Kegiatan ini mendesak untuk segera dilakukan mengingat lokasi candi yang berada di tengah pemukiman penduduk, yang bertujuan untuk menghindari pencurian atau pemindahan batu untuk kepentingan di luar pelestarian. Selain kegiatan teknis pada bangunan candi perlu kiranya dibentuk hubungan yang solid dengan pemda setempat dalam hal pelestarian. Agar kasus pendirian pos jaga oleh pemda yang kurang tepat dalam penempatannya tidak terulang kembali. Hal ini terjadi karena tidak adanya koordinasi antara pemda dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. Seiring dengan kegiatan koordinasi, hal yang harus segera dilakukan adalah menampilkan sosok Candi Lawang di situs internet milik Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah agar banyak orang yang mengenal Candi Lawang.

b. Jangka Menengah

Untuk jangka menengah kegiatan pelestarian yang perlu untuk dilakukan adalah penyuluhan dan pengenalan benda cagar budaya di Boyolali agar masyarakat dapat mengenal lebih dekat tinggalan budaya yang ada di lingkungan mereka, setelah proses pengenalan, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif dalam upaya pelestarian benda cagar budaya. Pengenalan dalam bentuk lain adalah mengadakan kemah budaya bagi siswa sekolah menengah. Selain itu juga dapat dipakai metode pengadaan kegiatan jejak budaya yang mengambil cara seperti kegiatan mencari jejak dalam kegiatan pramuka, namun muatan materi disesuaikan dengan kebutuhan yang ingin dicapai. Sebagai penguat upaya pengenalan Candi Lawang, dapat disusun leaflet yang berisi pengetahuan tentang objek dengan penyajian yang sederhana, mengena, dan cukup menarik bagi masyarakat umum. Sebelum dilakukan penataan kawasan perlu dilakukan kegiatan pemintakatan yang bertujuan untuk membuat zonasi kompleks Candi Lawang dan pembebasan tanah di sekitar candi serta pensertifikatan tanah setelah kegiatan pembebasan dilakukan.

c. Jangka Panjang

Kegiatan yang dimungkinkan dapat dilakukan terhadap Candi Lawang antara lain penataan kembali kawasan candi dan lingkungannya sesuai dengan kondisi terbaru Kompleks Candi Lawang. Salah satunya adalah dengan penyusunan masterplan pengembangan Candi Lawang dan lingkungannya dengan melibatkan masyarakat sekitar untuk turut serta dan berperan aktif melestarikan Candi Lawang.

2.3 Aspek Pengembangan dan Pemanfaatan

Aspek pengembangan dan pemanfaatan situs Candi Lawang pada prinsipnya sangat tergantung pada hasil penelitian dan keranga pelestarian sebagaimana telah diuraikan di atas. Namun demikian, beberapa hal yang perlu direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian tahap I ini adalah sebagai berikut:

a. Sektor Pendidikan

Untuk aspek pendidikan, Candi Lawang dapat ditinjau dari segi wujud fisik dan kandungan makna yang melekat di dalamnya. Khusus untuk pendidikan formal, pengenalan awal keberadaan Candi Lawang dijadikan sebagai bagian dari paket muatan lokal atau mata pelajaran terkait, khususnya sejarah kepada anak didik. Untuk itu diperlukan antara lain langkah berupa:

· koordinasi antara Dinas Parbud dengan Dinas Pendidikan

· penyusunan kemasan tulis tentang Candi Lawang sesuai dengan kebutuhan pendidikan

· menjajagi kemungkinan dimasukannya informasi tentang Candi Lawang sebagai bagian dari kurikulum muata lokal

Sementara itu untuk pendidikan non formal, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

· memasukan informasi tentang Candi Lawang sebagai bagian dari data base pada instansi terkait, khusunya pengelola informasi di Kabupaten Boyolali

· penyuluhan dan pameran khusus mengenai hasil penelitian Candi Lawang

· menjajagi kemungkinan dilaksanakannya program archaeology goes to mall berupa kerja sama antara Dinas Parbud dengan pengelola Mall dalam rangka pameran potensi arkeologis di Kabupaten Boyolali termasuk hasil penelitian mutakhir, di area mall yang tentu sudah menjadi area publik yang ramai

· pembuatan dan penggandaan poster hasil penelitian Candi Lawang

· press release mengenai hasil penelitian Candi Lawang

b. Sektor Seni dan Budaya

Informasi dan wujud fisik Candi Lawang dalam batas tertentu dapat dijadikan sebagai bahan inspirasi bagi pengembangan seni dan budaya di Kabupaten Boyolali. Beberapa hal yang patut dijajagi berkaitan dengan hal tersebut antara lain adalah:

· ragam hias yang terdapat pada bangunan Candi Lawang dapat dikonversi sebagai pola batik atau hal lain yang berkaitan dengan pengembangan seni

· aspek estetik Candi Lawang dikonversi menjadi model pada pengembangan kerajinan tembaga Tumang

· Menjajagi kemungkinan konversi teknologi konstruksi Candi Lawang dalam pengembangan model bangunan khusus yang berada pada bentang lahan yang kurang lebih sama di lereng Merapi

c. Sektor Kepariwisataan

Dalam aspek kepariwisataan, pengembangan Candi Lawang sebagai ODTW perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

· Integrasi dengan ODTW yang sudah dikembangkan, khususnya berkaitan dengan konsep jalur Solo – Selo – Borobudur (SSB), baik berupa objek alamiah, objek seni dan budaya, maupun objek artifisial

· Penataan akses, khususnya sarana jalan menuju Candi Lawang yang harus diperbaiki

· Papan petunjuk diperjelas dan didistribusikan mulai dari gerbang SSB hingga lokasi candi

· Penyebaran informasi tentang Candi Lawang di titik-titik massa seperti hotel, restoran, dan biro perjalanan di Boyolali dan sekitarnya

· Pelibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan kepariwisataan

· Menjajaki kemungkinan pemasaran view Merapi - Merbabu dari lokasi Candi Lawang yang secara alami sangat potensial sebagai pemandangan alam yang mengagumkan.

0 comments:

Post a Comment

Followers